Ticker

6/recent/ticker-posts

Artikel Ilmiah Populer

 

MEDIA AR (AUGMENTED REALITY) TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA SD

OLEH :
SYLVIA ANGGRAENI
GURU SDN KALIREJO KECAMATAN GRABAG, PURWOREJO, JAWA TENGAH

     Keberhasilan sebuah proses pembelajaran akan terlihat jika tujuan pembelajaran yang telah dirancang bisa tercapai. Dalam proses pencapaian tujuan tersebut, tentunya dibutuhkan dukungan berbagai hal baik dari sisi guru maupun siswa. Salah satu aspek yang sering kali menjadi masalah dalam proses pembelajaran yaitu motivasi belajar siswa. Rendahnya motivasi belajar siswa di dalam kelas, akan sangat mempengaruhi keberhasilan pencapaian tujuan. Adapun kondisi yang bisa menjadi penyebab rendahnya motivasi belajar siswa di dalam kelas antara lain Belum adanya media pembelajaran yang menarik minat siswa untuk belajar, Model yang digunakan dalam pembelajaran belum variatif, metode pembelajaran yang digunakan belum variatif, dan Siswa merasa materi yang diajarkan saat pembelajaran terasa sulit.

Ada beberapa alternatif solusi yang bisa dilakukan dari permasalahan motivasi peserta didik seperti pemanfaatan media yang inovatif dan penggunaan model pembelajaran yang bervariatif. Salah satu media yang bisa digunakan yaitu media AR (Augmented Reality) untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik di dalam kelas. Guru akan berperan sebagai fasilitator pembelajaran yang nantinya akan merancang, melaksanakan, dan merefleksi proses pembelajaran. Selain itu, guru juga memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan dengan optimal media AR untuk pembelajaran.

Ada beberapa tantangan yang dihadapi dalam pembuatan media AR ini. Media AR (Augmented Reality) merupakan media yang menggabungkan dunia nyata dan dunia virtual. Dalam merancang media ini dibutuhkan kreatifitas dan keuletan yang tinggi. Media AR ini dibuat secara online menggunakan menggunakan aplikasi berbasis website yaitu Assembler Edu. Untuk menampilkannya, dibutuhkan perangkat dengan spesifikasi tertentu. Perangkat tersebut juga harus memiliki ruang yang cukup untuk bisa menginstal aplikasi pendukung media AR ini. Selain itu, waktu yang dibutuhkan untuk membuat media AR tidak sedikit, sekitar 2-3 hari tergantung kompleksitas media. Terkadang juga membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menampilkan media, karena aplikasinya memang sedikit berat untuk dibuka.

       Untuk menyikapi tantangan tersebut, maka seorang guru hendaknya melakukan uji coba terlebih dahulu terhadap media agar saat digunakan dalam pembelajaran tidak terjadi kendala yang berarti. Adapun langkah-langkah yang dilakukan oleh guru untuk bisa menggunakan media AR di dalam pembelajaran yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan pembelajaran, dan tahap refleksi. Pada tahap persiapan, seorang guru harus merancang perangkat pembelajaran seperti RPP, LKPD, bahan ajar, instrumen penilaian, dan juga media pembelajaran. Penulis membuat media pembelajaran AR menggunakan aplikasi berbasis web yaitu assembler edu Untuk menghadapi tantangan berupa lamanya pembuatan media AR, guru harus memiliki strategi yaitu menyiapkan terlebih dahulu semua materi yang akan dimasukkan ke dalam media AR. Materi yang akan dimasukkan ke media AR ini misalnya tentang peninggalan kerajaan Islam di Indonesia, serta teks non fiksi raja kerajaan Islam di Indonesia. Di dalam media AR ini berisi gambar-gambar kerajaan Islam di Indonesia beserta dengan peninggalannya. Sebelumnya, penulis menyiapkan tablet sekolah untuk mengakses media ini.

Apapun langkah-langkah yang dilakukan penulis saat pembuatan media AR adalah sebagai berikut:

a.     Menyiapkan gambar dan informasi tentang kerajaan Islam di Indonesia beserta dengan peninggalannya.

b.     Mengedit gambar melalui canva agar lebih rapi saat dimasukkan ke dalam media AR.

c.     Merancang visual media AR supaya mudah dioperasikan.

d.     Membuat media AR di aplikasi berbasis web Assembler Edu. 

e.     Mempublikasi media AR dengan cara mengunduh QR code khusus yang nantinya bisa diakses melalui aplikasi Assembler Edu.

            Pada saat pelaksanaan pembelajaran, media AR ini bisa digunakan di dalam proses pembelajaran dengan model PBL (Problem Based Learning). Setelah peserta didik melalui fase 1 (orientasi terhadap masalah), dan fase 2 (pengorganisasian peserta didik untuk belajar), selanjutnya peserta didik menggunakan media AR ini pada fase ke 3 yaitu penyelidikan secara berkelompok. Menggunakan arahan yang ada di LKPD, peserta didik melakukan aktifitas pencarian informasi pada media AR yang sudah disediakan oleh guru. Peserta didik melakukan scan QR code yang telah disediakan oleh guru untuk bisa menampilkan media AR. Peserta didik kemudian melakukan eksplorasi media AR tersebut dari satu halaman ke halaman lain. Setelah menemukan informasi yang dibutuhkan, peserta didik bersama dengan kelompoknya menuliskan hasil informasi yang ditemukan pada LKPD. Selanjutnya, peserta didik akan melakukan presentasi hasil temuan informasi di media AR di depan kelas. Aktivitas inilah yang nantinya bisa digunakan untuk slaing bertukar informasi dan pengetahuan.

       Tahap terakhir pemanfaatan media ini adalah refleksi. Refleksi bisa dilakukan setelah proses pembelajaran dilakukan. Refleksi yang dilakukan berupa refleksi secara keseluruhan terkait proses pembelajaran, menganalisis hasil obserbvasi dan wawancara kepada peserta didik terkait bagaimana pemanfatan media AR untuk pembelajaran di dalam kelas, dan menganalisis artefak hasil pembelajaran peserta didik. Melalui kegiatan refleksi ini guru bisa mengetahui seberapa efektif media AR ini untuk pembelajaran di dalam kelas.

            Dampak yang dihasilkan dari pelaksanaan pembelajaran di kelas 4 SDN Kalirejo yaitu menggunakan media AR di dalam pembelajaran terbukti efektif untuk meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar. Materi yang dipilih oleh penulis merupakan materi yang kurang diminati oleh peserta didik pada umumnya yaitu materi terkait sejarah kerajaan di Indonesia. Dengan menggunakan media AR ini, peserta didik lebih antusias dalam mempelajari materi tersebut. Peserta didik terlihat senang mencoba hal baru yaitu menampilkan media AR di perangkat yang ada di sekolah. Pada hasil observasi terhadap peserta didik, mereka sangat menyukai aktivitas pembelajaran karena bisa bermain dengan media AR ini. Peserta didik berpandangan bahwa media AR ini seperti mainan baru untuk mereka. Dari sini peserta didik tidak berpikiran bahwa materi yang sedang dipelajari adalah materi yang sulit. Mereka lebih termotivasi lagi untuk belajar karena ada media yang menarik. Dari proses pembelajaran menggunakan media AR ini, hasil belajar peserta didik juga meningkat. Hal ini dibuktikan dengan hasil evaluasi pembelajaran, dimana semua peserta didik di kelas mencapai KKM yang ditentukan.

Respon mereka terhadap strategi yang telah lakukan di dalam kelas yaitu terinspirasi dan ingin belajar untuk membuat media tersebut, agar nantinya bisa digunakan di kelas lain. Keberhasilan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru, tentunya berkat dukungan dari semua pihak. Kepala sekolah memberikan dukungan penuh baik dalam perijinan penggunaan fasilitas sekolah, dan pemberian saran serta masukan yang membangun. Rekan sejawat juga memberikan motivasi yang besar bagi penulis untuk bisa memaksimalkan pembuatan media AR. Kemudian, peserta didik di kelas juga merupakan salah satu faktor keberhasilan dalam pelaksanaan aksi ini, karena mereka bisa dikondisikan dengan baik, sehingga langkah-langkah dalam pembelajarn bisa terlaksana secara optimal. Media AR sangat efektif untuk meningkatkan motivasi peserta didik karena tampilannya yang menarik, sesuai dengan karakteristik peserta didik saat ini, berisi hal baru yang mungkin belum pernah dilakukan oleh peserta didik, dan juga bisa meningkatkan kreativitas serta inovasi guru dalam menyajikan media pembelajaran di kelas.


Posting Komentar

0 Komentar